Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai ketersediaan Biosolar di pusat-pusat logistik perlu dijaga untuk mencegah kenaikan biaya distribusi yang berpotensi mendorong harga pangan. Menurutnya, dampak tidak langsung dari penyesuaian harga BBM perlu menjadi perhatian pemerintah.
Yusuf mengatakan kenaikan harga BBM mulai 1 September 2026 dilakukan secara selektif sehingga pengaruh langsung terhadap inflasi diperkirakan terbatas. Namun, biaya angkutan dan produksi dapat meningkat apabila pelaku usaha harus menggunakan BBM nonsubsidi dengan harga lebih tinggi.
Di DKI Jakarta, harga Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter. Dexlite meningkat dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter, sedangkan Pertamina Dex naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter. Sementara Pertamax, Pertalite, dan Biosolar tetap pada harga sebelumnya.
Menurut Yusuf, sektor yang paling berisiko terkena tekanan biaya adalah angkutan barang berbasis diesel nonsubsidi, distribusi pangan, serta industri yang menggunakan kendaraan operasional dan genset.
Ia mengingatkan kondisi tersebut dapat semakin terasa apabila pasokan Biosolar terbatas sehingga pelaku usaha terpaksa beralih ke Dexlite atau Pertamina Dex. Kenaikan ongkos operasional berpotensi diteruskan ke harga barang, terutama di daerah dengan rantai distribusi panjang.
Komoditas yang mudah rusak seperti ayam, cabai, ikan, dan produk hortikultura dinilai cukup rentan terhadap kenaikan biaya logistik. Meski demikian, Yusuf memperkirakan dampaknya tidak selalu langsung terlihat pada September karena pelaku usaha masih memiliki persediaan dan mempertimbangkan kondisi persaingan.
Penyesuaian tarif angkutan diperkirakan dapat terjadi dalam beberapa hari hingga dua minggu. Sementara transmisi ke harga barang konsumsi dan produk industri dapat membutuhkan waktu satu hingga tiga bulan.
Karena itu, periode Oktober hingga Desember perlu mendapat perhatian, terutama jika kenaikan biaya energi berbarengan dengan gangguan cuaca dan penurunan produksi pangan.
Pertamina memproyeksikan konsumsi Biosolar hingga akhir 2026 berpotensi melampaui kuota sekitar 9,4 persen. Hingga 31 Juli 2026, penyaluran Biosolar tercatat 11,18 juta kiloliter dari kuota 18,36 juta kiloliter.
Yusuf menilai pemerintah tidak harus menahan seluruh harga energi. Fokus mitigasi sebaiknya diarahkan pada ketersediaan Biosolar, efisiensi logistik, pengelolaan stok pangan, serta intervensi cepat di daerah yang mengalami kenaikan harga.
Reporter media online yang aktif meliput berita nasional, politik, dan perkembangan ekonomi.
