Kemenko Pangan: Inovasi Jadi Kunci Hadapi Tantangan Pangan

Coordinating Ministry for Food: Innovation Becomes the Key to Facing Food Challenges

Kementerian Koordinator Bidang Pangan menilai inovasi menjadi salah satu faktor penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan. Perubahan iklim, fluktuasi harga, bencana alam, hingga dinamika ekonomi global dinilai membutuhkan pendekatan baru yang melibatkan berbagai sektor.

Asisten Deputi Logistik Pangan Kemenko Pangan Ridky Irfan Wirautama menyampaikan pandangan tersebut dalam ajang Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 yang diselenggarakan PT SUCOFINDO (Persero) di Bali pada 10 September 2026.

Menurut Ridky, inovasi dapat mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang ekonomi sekaligus mendukung ketahanan energi. Salah satu contohnya adalah pengelolaan sampah melalui pendekatan ekonomi sirkular, termasuk pemanfaatan sampah untuk menghasilkan energi listrik.

Sektor pertanian dan pangan menjadi perhatian pemerintah karena menghadapi tantangan yang saling berkaitan. Selain perubahan iklim dan gejolak harga, sektor tersebut juga menghadapi risiko bencana, keterbatasan infrastruktur logistik, serta berkurangnya lahan produktif.

Pemerintah kemudian mendorong penerapan ekonomi sirkular pangan sekaligus memperkuat langkah mitigasi terhadap dampak cuaca ekstrem. Di sektor logistik maritim, pengembangan green and smart port juga diarahkan melalui digitalisasi, tata kelola modern, budaya Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), serta penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle.

Konsep blue economy turut menjadi bagian dari strategi tersebut. Pengembangan ekonomi berbasis sumber daya laut diarahkan untuk memperkuat ketersediaan pangan berprotein, membuka lapangan kerja, sekaligus menciptakan peluang investasi di wilayah pesisir.

Ridky menyebut Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) pada 2026 diarahkan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir. Program tersebut mengintegrasikan rantai nilai perikanan dari kegiatan produksi, pengolahan, fasilitas pendinginan dan penyimpanan hingga distribusi ke pasar.

Di sisi lain, ENSIA 2026 juga membahas pengembangan pasar karbon sebagai instrumen untuk mendukung pengurangan emisi. Senior Researcher Korea Research Institute on Climate Change (KRIC) Bonn Choi mengatakan implementasi Artikel 6 Perjanjian Paris dapat membuka peluang bagi pengembangan mekanisme perdagangan karbon.

Menurut Bonn, proyek teknologi inovatif dan fasilitas rendah emisi berpotensi menghasilkan pengurangan emisi yang memiliki nilai ekonomi. Mekanisme tersebut dapat mendukung target Nationally Determined Contribution (NDC) sekaligus menciptakan peluang pendapatan dari perdagangan karbon.

Indonesia memiliki peluang pengembangan proyek pengurangan emisi di sektor energi, rumah tangga, limbah, pertanian berkelanjutan, kehutanan, hingga teknologi CCS/CCUS. Akselerasi pasar karbon membutuhkan identifikasi sektor prioritas, regulasi yang kuat, serta integrasi sumber pengurangan emisi ke dalam Emissions Trading System (ETS).

Website |  + posts

Menulis tentang teknologi, bisnis, dan tren digital dengan gaya informasi yang mudah dipahami pembaca.