Pulau Rengit di Kepulauan Bangka Belitung menjadi salah satu lokasi yang mempertemukan pengembangan energi surya dengan agenda transisi energi melalui Just Energy Transition Partnership (JETP). Kawasan tersebut dikembangkan sebagai tempat pengujian berbagai teknologi energi bersih untuk mendukung sistem kelistrikan pulau kecil.
PT PLN mengembangkan Green Energy Ecosystem Technopark (GEET) di Pulau Rengit dengan mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), baterai penyimpanan energi, turbin angin, serta fasilitas produksi dan penyimpanan hidrogen hijau. Ekosistem tersebut juga dilengkapi fuel cell dan sistem manajemen energi.
GEET diluncurkan pada 22 Agustus 2026. Selain menjadi bagian dari pengembangan teknologi energi bersih, fasilitas tersebut dirancang sebagai ruang pembelajaran dan pengujian sistem energi terintegrasi yang dapat diterapkan pada karakteristik wilayah kepulauan.
Salah satu hasil yang telah terlihat adalah peningkatan layanan listrik di Pulau Rengit. Sistem energi yang dikembangkan PLN disebut mampu memperpanjang waktu layanan listrik masyarakat dari sekitar 12 jam menjadi 24 jam setiap hari.
Pengembangan di Pulau Rengit juga berkaitan dengan program nasional PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diluncurkan pemerintah pada 25 Agustus 2026. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat PLTS Pulau Rengit berkapasitas 0,078 megawatt peak (MWp) sebagai salah satu dari empat proyek yang terhubung dengan program tersebut.
Walaupun kapasitas PLTS di lokasi tersebut relatif kecil dibandingkan target nasional, Pulau Rengit memiliki fungsi sebagai laboratorium skala pulau. Sistem tersebut memungkinkan pengujian integrasi energi surya, penyimpanan listrik, tenaga angin, serta hidrogen untuk mendukung ketahanan energi dan akses listrik.
Pengembangan hidrogen hijau di Pulau Rengit juga menjadi bagian dari kerja sama Indonesia dan Jerman dalam agenda transisi energi. Dalam dialog kebijakan “The Trilemma of Clean Energy Transition” di Jakarta pada 22 September 2026, Kepala Departemen Asia Tenggara Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Bettina Kellersmann menyebut proyek percontohan hidrogen hijau di Pulau Rengit sebagai salah satu area dukungan JETP.
Hidrogen hijau merupakan bahan bakar yang diproduksi dengan memanfaatkan listrik dari sumber energi terbarukan untuk memisahkan hidrogen dari air. Teknologi tersebut menjadi salah satu pilihan yang dikembangkan dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
JETP sendiri merupakan skema kemitraan antara negara-negara maju dan negara berkembang untuk mendukung transisi dari energi fosil menuju sistem energi yang lebih bersih. Kemitraan Indonesia dalam skema tersebut disepakati dalam KTT G20 di Bali pada 2022.
Dengan pengembangan GEET, Pulau Rengit tidak hanya menjadi lokasi proyek energi bersih, tetapi juga menjadi tempat pengujian bagaimana berbagai teknologi dapat bekerja secara terpadu dalam sistem kelistrikan pulau kecil.
Menulis tentang teknologi, bisnis, dan tren digital dengan gaya informasi yang mudah dipahami pembaca.
