Sebanyak enam personel Angkatan Laut Artesh Iran dilaporkan tewas dalam serangan Amerika Serikat terhadap Iran pada Selasa malam waktu setempat. Informasi tersebut disampaikan kantor berita semiresmi Iran, Mehr, pada Kamis.
Laporan tersebut menyebut tiga pilot termasuk di antara korban. Mereka diidentifikasi sebagai Mojtaba Baqeri, Hamed Okati, dan Hossein Mahdavian.
Kepala Hubungan Masyarakat Kementerian Kesehatan Iran Hossein Kermanpour juga menyampaikan perkembangan jumlah korban akibat serangkaian serangan AS. Melalui unggahan di platform X pada Kamis, ia mengatakan 18 orang meninggal dunia dan 142 lainnya mengalami luka-luka dalam serangan yang berlangsung pada periode 30 Agustus hingga 2 September.
Informasi mengenai korban tersebut muncul setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa militernya telah melancarkan serangkaian serangan terhadap sasaran militer Iran.
Dalam pernyataan melalui platform X pada Rabu pagi, CENTCOM mengatakan pasukan AS telah menyelesaikan gelombang serangan terhadap sejumlah target militer Iran. Washington menyebut tindakan tersebut berkaitan dengan dugaan upaya serangan terbaru Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz serta personel militer Amerika Serikat.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik strategis dalam konflik karena merupakan jalur penting bagi aktivitas pelayaran dan perdagangan energi internasional. Setiap gangguan terhadap keamanan kawasan tersebut dapat memberikan dampak terhadap arus transportasi laut dan pasar energi global.
Setelah serangan AS, Iran melakukan aksi balasan dengan menyasar sejumlah pangkalan dan aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan Iran dilaporkan mencakup fasilitas AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, wilayah semiotonom Kurdistan Irak, serta Uni Emirat Arab.
Rangkaian serangan dan aksi balasan tersebut menunjukkan konflik antara Washington dan Teheran terus memasuki fase yang semakin kompleks. Aktivitas militer kedua pihak juga meningkatkan risiko terhadap stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Selain menimbulkan korban di pihak militer Iran, data dari Kementerian Kesehatan Iran menunjukkan adanya korban luka dalam periode serangan tersebut. Pemerintah Iran terus mendata dampak serangan, sementara informasi mengenai sasaran dan kerusakan masih berkembang.
Di sisi lain, Amerika Serikat mempertahankan alasan bahwa operasi militernya dilakukan untuk merespons ancaman terhadap personel AS dan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Perkembangan selanjutnya akan menjadi perhatian karena setiap eskalasi baru berpotensi memperluas dampak konflik ke negara-negara lain di kawasan.
Menulis tentang teknologi, bisnis, dan tren digital dengan gaya informasi yang mudah dipahami pembaca.
