Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca di berbagai wilayah Indonesia sebagai langkah menjaga ketersediaan air selama musim kemarau yang diperkuat fenomena El Nino. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan pasokan air bagi kebutuhan masyarakat, pertanian, energi, hingga mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan bahwa penurunan curah hujan akibat El Nino berpotensi mengurangi debit air yang masuk ke waduk. Kondisi ini dapat berdampak pada penyediaan air baku, irigasi pertanian, serta operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang bergantung pada ketersediaan air.
Karena itu, BMKG bersama sejumlah kementerian, pengelola waduk, dan pemangku kepentingan lainnya menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan curah hujan di wilayah tangkapan air strategis. Program tersebut telah diterapkan di sejumlah daerah yang memiliki peran penting terhadap ketahanan energi dan sumber daya air nasional.
Beberapa kawasan prioritas meliputi Danau Toba di Sumatera Utara, Danau Poso di Sulawesi Tengah, serta Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di Jawa Barat. Menurut BMKG, peningkatan pasokan air di wilayah tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan sektor pertanian, penyediaan air bersih, dan pasokan listrik berbasis tenaga air.
Selain mendukung ketahanan air, operasi modifikasi cuaca juga difokuskan untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Penurunan curah hujan menyebabkan kelembapan lahan gambut menurun sehingga kawasan tersebut menjadi lebih rentan terbakar. Untuk mengantisipasi kondisi itu, BMKG melakukan pembasahan lahan gambut melalui teknologi modifikasi cuaca agar kelembapan tetap terjaga dan potensi karhutla dapat ditekan.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bersama jajaran Kabinet Merah Putih yang membahas kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau dan fenomena El Nino. Pemerintah menekankan pentingnya menjaga cadangan air sekaligus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan di wilayah rawan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani sebelumnya menyampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca akan diperkuat di enam provinsi yang memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BMKG mencatat El Nino yang mulai berkembang sejak Juni 2026 kini telah memasuki fase kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Fenomena tersebut diperkirakan berlangsung hingga sekitar Mei 2027. Meski demikian, BMKG menegaskan kondisi itu tidak berarti seluruh Indonesia akan mengalami kemarau sepanjang periode tersebut.
Prakiraan BMKG menunjukkan curah hujan pada Agustus hingga September 2026 berada pada kategori rendah hingga sangat rendah di sejumlah wilayah sehingga meningkatkan risiko kekeringan. Sementara itu, musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada pertengahan Oktober 2026 sehingga dampak El Nino terhadap pola hujan diperkirakan akan mulai berkurang.
Menulis tentang teknologi, bisnis, dan tren digital dengan gaya informasi yang mudah dipahami pembaca.
