Desa Diminta Jadi Garda Depan Hadapi Risiko Bencana

Desa Diminta Jadi Garda Depan Hadapi Risiko Bencana - JatengBerita.com

Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal (BBPPMD) Jakarta mendorong desa mengambil peran lebih besar dalam penanggulangan bencana. Desa dinilai memiliki posisi strategis karena masyarakat setempat paling memahami karakter wilayah, potensi risiko, serta kebutuhan warga ketika terjadi keadaan darurat.

Kepala BBPPMD Jakarta Enirawan mengatakan desa tidak seharusnya hanya dipandang sebagai wilayah yang menerima dampak ketika bencana terjadi. Menurutnya, desa perlu menjadi bagian terdepan dalam mengenali ancaman, membangun sistem kesiapsiagaan, hingga membantu proses pemulihan masyarakat.

“Desa bukan sekadar wilayah yang terdampak bencana, tetapi merupakan garda terdepan dalam mengenali risiko, mendeteksi dini kebencanaan, membangun kesiapsiagaan, melindungi kelompok rentan, memberi pertolongan awal, serta mendukung proses pemulihan masyarakat,” ujar Enirawan dalam Webinar Lentera Vol. XIX bertajuk “Manajemen Kebencanaan Berbasis Masyarakat untuk Mewujudkan Desa Tangguh dan Sehat” yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Menurut Enirawan, keunggulan desa dalam menghadapi bencana terletak pada pengetahuan masyarakat mengenai kondisi lingkungan di sekitarnya. Warga umumnya memahami lokasi yang rawan, sumber daya yang dapat digunakan ketika keadaan darurat, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih.

Karena itu, pengelolaan risiko bencana tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah maupun lembaga khusus kebencanaan. Masyarakat desa perlu ditempatkan sebagai subjek utama agar berbagai langkah mitigasi dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.

Pendekatan berbasis masyarakat juga mendorong perubahan peran warga. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima bantuan ketika bencana terjadi, tetapi ikut terlibat dalam mengidentifikasi risiko, menyiapkan langkah pencegahan, memberikan pertolongan awal, hingga mendukung pemulihan setelah bencana.

Enirawan sebelumnya mengingatkan bahwa Indonesia memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Kondisi geografis, geologis, dan demografis membuat sejumlah wilayah menghadapi ancaman beragam, mulai dari gempa bumi, banjir, tanah longsor, wabah penyakit hingga bencana yang dipicu aktivitas manusia.

Situasi tersebut membuat kesiapsiagaan perlu dibangun secara berkelanjutan. Menurut Enirawan, masyarakat tidak dapat hanya melakukan persiapan ketika bencana sudah terjadi karena waktu dan lokasi kejadian tidak dapat diprediksi secara pasti.

Penguatan kapasitas masyarakat di tingkat desa juga dinilai dapat mempercepat respons ketika terjadi keadaan darurat. Pengetahuan mengenai jalur evakuasi, perlindungan kelompok rentan, komunikasi darurat, serta pemanfaatan sumber daya lokal menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan masyarakat.

Untuk mewujudkan desa yang tangguh, sehat, dan mandiri, Enirawan mendorong adanya sinergi antara pemerintah desa, kelembagaan desa, kader kesehatan, relawan, serta seluruh unsur masyarakat.

Kolaborasi tersebut diharapkan membuat penanggulangan bencana tidak berhenti pada respons setelah kejadian, tetapi mencakup pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan. Dengan demikian, desa dapat memiliki kemampuan lebih kuat untuk menghadapi berbagai risiko sekaligus melindungi masyarakat secara berkelanjutan.

Website |  + posts

Reporter media online yang aktif meliput berita nasional, politik, dan perkembangan ekonomi.