
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Benih Ikan milik Dinas Perikanan Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, terus memperkuat perannya dalam mendukung sektor budidaya ikan air tawar sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui penjualan benih ikan unggul bersertifikat kepada masyarakat.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sorong, Marthen Kaiway, mengatakan balai benih tidak hanya menyalurkan bantuan kepada kelompok pembudidaya penerima program pemerintah, tetapi juga menyediakan benih berkualitas dengan harga terjangkau bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha perikanan.
Benih ikan berukuran 2–3 sentimeter dipasarkan dengan harga Rp500 per ekor, lebih rendah dibandingkan harga benih dari luar daerah yang berkisar Rp1.000 hingga Rp1.200 per ekor. Harga tersebut dapat ditekan karena seluruh fasilitas produksi dikelola pemerintah sehingga biaya operasional lebih efisien.
Menurut Marthen, hasil penjualan benih memberikan kontribusi terhadap PAD Kabupaten Sorong dengan target penerimaan sekitar Rp56 juta setiap tahun. Dana tersebut selanjutnya dimanfaatkan kembali untuk menunjang operasional balai benih, termasuk pengadaan pakan induk, pemeliharaan fasilitas produksi, serta peningkatan kapasitas pembenihan.
Ia menjelaskan keberadaan UPT Balai Benih Ikan memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan benih unggul bagi pembudidaya lokal sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat sektor perikanan budidaya di Kabupaten Sorong secara berkelanjutan.
Saat ini balai benih mengembangkan beberapa komoditas utama, yakni ikan nila, ikan lele, dan ikan mas, yang memiliki permintaan pasar tinggi serta dinilai sesuai dengan kondisi budidaya di wilayah Sorong.
Meski demikian, pengembangan sektor budidaya masih menghadapi tantangan, terutama tingginya harga pakan ikan. Marthen mengatakan sebagian besar pasokan pakan masih didatangkan dari Pulau Jawa dengan waktu distribusi yang dapat mencapai hampir dua bulan. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya produksi serta memengaruhi pertumbuhan ikan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sorong telah mengusulkan pembangunan pabrik pakan ikan kepada pemerintah pusat. Kehadiran industri pakan di Papua diharapkan dapat memperpendek rantai distribusi, menekan biaya produksi, sekaligus meningkatkan produktivitas pembudidaya.
Sambil menunggu realisasi pembangunan pabrik, pemerintah daerah juga mendorong penggunaan pakan alternatif seperti azolla. Namun, Marthen mengakui pakan alami tersebut belum mampu sepenuhnya menggantikan pakan pabrikan karena pertumbuhan ikan berlangsung lebih lambat.
Pemerintah berharap dukungan pusat terhadap pembangunan industri pakan di Papua dapat memperkuat ketahanan pangan daerah, meningkatkan kesejahteraan pembudidaya, serta mempercepat pengembangan sektor budidaya ikan air tawar di Kabupaten Sorong.
