Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberi sinyal harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, berpeluang mengalami penurunan dalam waktu dekat. Rencana tersebut dipicu tren melemahnya harga minyak dunia dan turunnya Harga Minyak Mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).
Bahlil mengatakan pemerintah telah mencermati perkembangan harga minyak global dan akan segera membahas penyesuaian harga BBM bersama Pertamina serta badan usaha swasta. Menurutnya, penurunan harga minyak dunia menjadi dasar untuk mengevaluasi harga jual BBM nonsubsidi di dalam negeri.
“Bahkan ada potensi untuk beberapa jenis BBM, ketika harga minyak dunia turun, kita sudah mulai meminta kepada pengusaha badan usaha swasta, termasuk Pertamina, untuk segera melakukan penyesuaian,” ujar Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/7/2026).
Meski demikian, pemerintah belum menetapkan waktu pasti penyesuaian harga. Bahlil menegaskan keputusan akan diambil setelah melakukan perhitungan lebih lanjut serta menggelar rapat bersama seluruh badan usaha di sektor perminyakan.
Ia menjelaskan kebijakan tersebut harus mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan masyarakat pengguna BBM nonsubsidi dan keberlangsungan usaha perusahaan energi. Pemerintah ingin memastikan penyesuaian harga dilakukan secara adil tanpa membebani salah satu pihak.
Peluang turunnya harga Pertamax muncul setelah rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) pada Juni 2026 turun menjadi 83,45 dolar Amerika Serikat per barel dari 106,56 dolar AS per barel pada Mei 2026. Penurunan tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menjelaskan penurunan ICP dipengaruhi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk mulai pulihnya jalur distribusi minyak global setelah pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap.
Selain itu, peningkatan produksi minyak oleh negara-negara OPEC+ dan proyeksi pertumbuhan permintaan global yang lebih rendah turut menekan harga minyak dunia. Kondisi tersebut membuka peluang penyesuaian harga BBM nonsubsidi apabila tren penurunan harga minyak internasional terus berlanjut.
