Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Barat memastikan cadangan beras pemerintah di wilayahnya berada dalam kondisi aman dengan stok mencapai 847 ribu ton hingga pertengahan 2026. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga musim panen berikutnya sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di pasar.
Ketersediaan stok yang besar menjadi indikator kuatnya ketahanan pangan di Jawa Barat, salah satu daerah sentra produksi padi terbesar di Indonesia. Cadangan tersebut juga diproyeksikan mampu mendukung berbagai program stabilisasi pangan apabila terjadi peningkatan permintaan maupun gejolak harga di pasar.
Pimpinan Wilayah Bulog Jawa Barat, Nurman Susilo, menjelaskan bahwa tingginya cadangan beras merupakan hasil dari optimalisasi penyerapan hasil panen petani selama beberapa waktu terakhir. Menurutnya, peningkatan produksi padi di Jawa Barat memberikan ruang yang lebih besar bagi Bulog untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Produksi Padi Meningkat Dorong Penyerapan Gabah
Nurman mengungkapkan produksi padi Jawa Barat sepanjang 2025 mencapai 10,23 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) atau meningkat sekitar 18,54 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan produksi tersebut dimanfaatkan Bulog untuk mempercepat penyerapan gabah langsung dari petani.
Hingga pertengahan 2026, Bulog Jawa Barat telah merealisasikan penyerapan sebanyak 1.160.873 ton Gabah Kering Panen (GKP) dan 3.069 ton beras. Jika dikonversikan, total hasil penyerapan tersebut setara dengan 596.896 ton beras yang menjadi bagian dari cadangan pangan pemerintah.
Menurut Nurman, peningkatan hasil panen menunjukkan sektor pertanian di Jawa Barat terus berkembang. Bulog berupaya memastikan seluruh hasil produksi petani dapat terserap secara optimal sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan kebutuhan masyarakat.
Bulog Jamin Pembelian Gabah Petani
Dalam pelaksanaan penyerapan hasil panen, Bulog membeli gabah sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang berlaku, yakni Rp6.500 per kilogram untuk kualitas Gabah Kering Panen (GKP).
Selain menerapkan harga sesuai ketentuan pemerintah, Bulog juga membuka akses bagi seluruh petani untuk menjual hasil panennya tanpa pembatasan kuota. Penjualan dapat dilakukan melalui satuan kerja Bulog maupun jaringan mitra penggilingan yang telah bekerja sama di berbagai daerah.
Kebijakan tersebut diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sehingga mereka tidak perlu khawatir terhadap pemasaran hasil panen, terutama ketika produksi meningkat pada musim panen raya.
Perkuat Stabilitas Harga dan Pasokan Beras
Cadangan beras dalam jumlah besar juga menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga pangan. Dengan stok yang mencukupi, Bulog memiliki fleksibilitas untuk melakukan intervensi pasar apabila terjadi lonjakan harga atau gangguan distribusi.
Nurman menegaskan stok beras yang tersedia saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jawa Barat. Karena itu, Bulog akan terus menjaga ketersediaan cadangan pangan agar pasokan tetap stabil dan masyarakat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau.
Keberhasilan memperkuat stok beras sekaligus meningkatkan penyerapan gabah semakin menegaskan peran strategis Jawa Barat sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Sinergi antara peningkatan produksi, penyerapan hasil panen, dan pengelolaan cadangan pangan diharapkan mampu menjaga ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung stabilitas pangan nasional dalam jangka panjang.
